Friday, March 14, 2014

LDR vs LT

Sudah setahun lebih sembilan hari saya menjalani hubungan bersama Ven dengan berjauhan alias LDR (Long Distance Relationhip). Percaya kata kata saya bahwa menjalani LDR ini bukan lah sesuatu yang mudah untuk dijalankan. Beberapa prinsip dalam hubungan mungkin bisa dikatakan mudah bila kita berjauhan, sebut saja kita masih bisa melakukan hal hal yang menjadi kesukaan kita atau kita bisa bekerja hingga larut malam tanpa khawatir kena omel pasangan karena pasangan sdh sedari td menunggu kita dirumah, atau mungkin kita bisa pergi hang out dengan teman teman kita. Tapi saya tidak memungkiri bahwa menjalani ini semua bukan lah sesuatu yang mudah untuk saya yang mungkin sudah terbiasa melihat pasangan saya setiap hari.

Ven yang tinggal di kota yang berjarak 1 jam dari kota saya, (ini pake pesawat loh yah pergi nya teman teman) membuat saya untuk mempunyai effort lebih untuk mengenal dia secara utuh, effort secara moril maupun materil. Tak pelak lagi kadang saya merasa sangat  sangat capek dengan berjauhan seperti ini, tapi sekali lagi saya selalu di ingatkan kepada commitment yang telah saya buat ketika saya memutuskan untuk menicntyai ven dengan segala konsekuensi yang timbul.

Salah satu rintangan terbesar yang saya temukan dalam menjalani LDR adalah rasa bahwa saya tak cukup mengenal pasangan saya luar dan dalam. Kenapa saya merasa seperti itu?karena rasanya banyak detail detail kecil yang justru membuat saya mengenal pasangan saya itu terlewati setiap hari nya. Lets say detail detail itu adalah bagaimana raut muka nya ketika dia bahagia, ketika dia kesal dengan keadaan kantor nya, serta raut muka nya ketika dia marah kepada saya karena mungkin hal hal yang membuat dia sebel, atau mungkin juga raut muka nya ketika kami sedang bercengkarama di depan televisi sambil menikmati makan malam kami sambil mendengarkan celoteh nya mengenai kegiatan dia hari itu. Hal hal yang seperti saya sebutkan tadi mungkin bagi sebagian kecil pasangan diluar sana atau bahkan mungkin bagi pasangan saya sendiri adalah hal kecil yang harus tidak menjadi perhitungan dalam berkeluh kesah tentang LDR, tapi buat saya pribadi...justru hal hal kecil tersebut yang membuat saya belingsatan tak menentu.

Kalau cemburu?mungkin saya dan Ven sudah melewati masa masa cemburu, well at least saya tidak pernah merasa cemburu karena saya percaya dengan pasangan saya...meskipun saya cukup trauma dengan issue kepercayaan yah..tapi Ven somehow bisa membuat saya yakin dengan diri nya. Jadi klo masalah cemburu cemburu
an itu bukan faktor terbesar dalam hubungan saya.

Financial?mau tidak mau masalah financial ini berpengaruh cukup banyak, terutama saya harus selalu mempunyai dana untuk paling tidak bertemu kekasih hati saya ini sebulan sekali, dan ini cukup membuat profit margin saya minus, lohhh jadi ngomongin budget saya inihhh...hihihi. Anyway, tidak hanya kantong saya yang semakin menipis, tapi kantong pasangan saya juga ikutan menipis karena saya tidak pernah tahan untuk tidak bertemu dalam waktu kurun waktu jauh lebih lama dari 2 bulan. Padahal kami berdua sudah waktu nya menabung untuk masa depan.

Apalagi?hmmm mungkin hanya dua hal yang membuat saya agak  terseok seok dalam menjalani LDR ini. Saya sedang berusaha untuk jauh lebih lapang hati dan menanti saat yang tepat untuk pasangan saya pindah ke kota saya dan tinggal bersama.

Masuk ke LT atau Living Together, atau beberapa orang termasuk saya, tinggal bersama dengan pasangan lebih banyak baik nya daripada buruk nya. Kenapa?Karena buat saya pertama, secara financial jauh lebih hemat daripada LDR yang mengharuskan kita mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk wakuncar. Kedua, dengan tinggal dalam satu atap kita akan jauh lebih mengenal siapa pasangan kita luar dalam, lets say kita jadi tahu kalau pasangan kita ini kalau pagi demen nya kentut tak berkesudahan, atau kebiasaan kecil dalam menaruh handuk setelah selesai mandi atau kebiasaan makan pasangan yang harus di sertai kerupuk mungkin. Hal hal yang tidak di dapatkan ketika kita hanya bertemu 2 hari ketika masih LDR. Ketiga, kita belajar untuk hidup dalam sebuah kompromi, karena saya akui di dalam satu atap ada 2 pikiran , 2 otak yang mungkin kadang tak selalu sejalan, kita belajar untuk berkompromi dengan kondisi yang ada, belajar berbagi, melatih kesabaran kita, dan belajar untuk jauh lebih menghargai apa yang kita punya bersama.

Buat saya, itu lah keuntungan kita Living Together dengan pasangan. Well untuk saat ini, saya tidak pernah menemui rintangan yang cukup berarti dengan tinggal bersama pasangan saya, buat saya semakin berbeda kami, semakin beragam pemikiran di dalam satu rumah, semakin dinamis hubungan nya, dan semakin saya merasakan bahwa kehadiran kami satu sama lain adalah untuk saling melengkapi.

Saya tidak menyarankan untuk lebih memilih tinggal bersama dengan pasangan, karena saya mengerti bahwa situasi dan kondisi kita berbeda beda. Yang mana pun yang dipilih mau LDR beda pulau, beda kota, atau beda RT,RW, Kelurahan, atau pun kabupaten...maupun Tinggal satu atap pilihan yang di pilih haruslah atas kesadaran dan didukung oleh commitment yang dibangun oleh kita sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun. karena pilihan manapun yang mau dipilih diperlukan commitment untuk menjalani nya, karena tanpa ada commitment...Mau di bawa kemana hubungan kita?