Friday, November 30, 2012

Me, Myself, and I

Saya bukan tipe orang yang betah lama lama sendirian..dari dulu ketika pacaran sama cowo pun saya kaya gini, abis putus sama si A, paling lama sekitar 6 bulan saya udah jadian lagi sama si B. Ngga ada bedanya ketika saya pacaran sama perempuan, gatel rasa nya saya kalau ngga juga dapet ganti nya. Emang sih pacar perempuan saya masih bisa dihitung pake jari...cuman 2...hihihi.

But after Sarah, i guess i need my "Me Time". I need to get my head back in the game first, heals my broken heart, giving my self a break from this "Love Thing". I need to be more focused with my life, my little family, my career.  

For sure saya masih mau kok pacaran...cuman not now..i've learn a lot from the previous relationship i had, yah mungkin niat awal nya yang salah..karena saya mau cepet cepet move on dari Alesha, so yeah at first i use Sarah as my distraction from Alesha , and i push my self 100% to make this thing with me and Sarah to work out, i finally did...i did fell for her...but i made one mistake that ruin everything that i built for this relationship, well saya ga mau nyalahin diri saya sendiri lagi di kasus ini karena relationship harus nya dibangun dengan kedua orang yang terlibat dalam hubungan tersebut, bukan hanya dibangun searah..tapi harus 2 arah. Jadi yah kenapa saya dan Sarah putus yah karena kesalahan kami berdua.

Thats why this i dont want to rush things...ngga mau kaya dulu lagi dimana ketika putus saya harus nemu pegangan yang lain. Saya harus bisa berdiri sendiri, dan saya harus berpikir bahwa saya punya waktu jauh lebih banyak ketika saya jomblo untuk ngurus diri saya sendiri, karir saya, my little family. And when the time is right...i am sure that my "the one" will come and find me just waiting for her to come. Just like when Alesha found me.

Jadi, Ladiesss...Ruben udah jomblo lohhh hihihihi


Friday, November 16, 2012

How Wonderful

Saya punya teman banyak...yang straight ngga bisa dihitung pake jari, yang straight dan tahu saya Lesbian bisa dihitung pake jari, temen yang lesbian apalagi...lebih bisa dihitung pake jari. Namun buat saya teman saya yang bener bener temen saya itu sedikit, dan diantara "teman" saya yang sedikit itu terselip mantan saya. Yang pertama adalah mantan pacar cowo saya, saya kasih nama dia si A aja deh. Si A ini bisa jadi tempat curhatan saya dikala saya galau sama hubungan saya dengan perempuan, kaya diantara kami ngga ada pernah ada story bahwa saya dulu selingkuh dari dia buat bersama dengan pacar perempuan saya. 

Yang kedua adalah mantan pacar perempuan pertama saya...Alesha. Our relationship is far more growing than ever. Alesha is always be my person, saya sama Alesha itu kaya Meredith and Christina Yang di Grey's Anatomy, 2 kepribadian yang sangat bertolak belakang but at one point they can understand each other very well. So yeah almost everything that i've been through lately she knows the story...i know her so well and she understand me well.

Yang ketiga adalah temen SMP saya, seorang ibu beranak satu yang mulutnya nyinyir minta ampun. Dari mulai saya Coming Out ke dia sampe hari ini ini , ngga ada satu pun kata kata dia yang menghakimi saya, memandang rendah saya, bahkan menjauhi saya. Dia bilang dia bangga punya at least 1 temen Lesbian. Yang selalu dia ingatkan ke saya adalah bagaimana saya menjaga kelesbianan saya ini supaya ngga diketahui keluarga saya, karena dia tahu pasti keluarga saya pasti akan sangat kecewa, apalagi ibu saya. Ketika saya dulu putus dari Alesha pun dia memberi saya sudut pandang yang sangat menyegarkan, and helped me to move on. dan ketika saya cerita bahwa saya ingin mencoba lagi dengan perempuan yang umurnya jauh di bawah saya dia hanya bisa senyum dan tetap memberikan support nya, ketika saya putus dengan Sarah pun dia memberikan moral support yang tidak biasa, sudut pandang yang diberikan ke saya untuk melihat keselurhan masalah saya selalu beda dari orang lain sehingga saya pun bisa melihat semuanya dengan jelas. And I owe her a lot for that.

Yang ke empat adalah Geng Beranjak saya. Lushka, Cesca, Sam, Indy, Kak Yas, lima orang ini anggota asli geng beranjak saya. They helped me through my breakup with Alesha, berkat mereka juga akhirnya saya bisa ketemu sama Sarah, dan mereka ngga henti hentinya bantu saya secara moral untuk bangkit dari kesedihan saya ketika ternyata Sarah tak lagi jadi milik saya.

Jadi kalau di lihat dari tulisan saya diatas, saya patut bersyukur mempunyai teman teman seperti mereka itu. My life turns out full of wonderful people surrounds me. Maybe i will find another love in my life, but my love for them is indefinitly.

Kaum Minoritas

Kaum LGBTIQ..wait let me rephrase that sentence...LGBTIQ Society sudah lama di anggap sebagai society nomer kesekian kesekian dalam lingkungan kita. Rasanya baru baru ini saja saya bisa merasakan sedikit ada kebebasan untuk kaum LGBTIQ untuk berkarya, dan bisa menunjukkan jati dirinya di masyarakat luas. Tidak  seperti dulu yang mana kita harus ngumpet ngumpet bak maling dan sangat ketakutan rasanya kalau sampai orang tahu kita termasuk dalam kalangan LGBTIQ tersebut.

Ketika saya bekerja di salah satu organisasi yang memang bekerja sama dengan LSM-LSM lokal yang menaungi kaum Lesbian, Gay dan Transgender, mata saya banyak terbuka dengan keadaaan yang notabene merupakan kaum saya sendiri. Banyak tindakan2 abusive yang diterima kaum ini. Bahkan ngga sedikit perlakuan abusive itu dilakukan oleh keluarga sendiri, dari mulai Physical Abuse sampe kepada Mentally Abuse. Pernah ada satu kasus dimana si anak yang menjadi Lesbian di kurung di rumah, dipanggilkan ustadz,  dan menerima kekerasan berulang ulang dari keluarga nya, sampai pada akhirnya sang anak kabur ke organisasi mitra saya untuk meminta perlindungan, karena ketika dia lari mencari perlindungan kepada Aparat kita sang anak malah mendapatkan cemoohan yang tidak ada bedanya dengan perlakuan keluarga si anak ini, si anak ini meminta perlindungan dan meminta untuk dapat mengadvokasi si anak ini dengan keluarga.

Ada salah satu kasus lagi dimana ada seorang transgender yang selalu di lecehkan di lingkungan tempat tinggal dia dan berakhir kepada kasus pengeroyokan serta pelecehan seksual terhadap sang Transgender, kasus yang sama terjadi ketika dia berusaha untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada Pihak yang berwenang, yang ada dia menjadi bahan tertawaan dan semakin di lecehkan lagi.

We have to open our eyes people, these people is not sick people that we need to avoid. They are the same like we are. Mengapa kebanyakan Transgender lebih memilih untuk mengamen dan melacurkan diri nya?karena lingkungan tidak menerima adanya mereka, bahkan lapangan kerja yang tersedia pun sangat terbatas, jarang sekali kantor kantor yang mau menerima mereka sebagai pegawainya. Mengapa para Gay dan Lesbian lebih memilih untuk stay in the closet ketika dia di wilayah kantor?karena ya itu sekali lagi...pandangan nyinyir, melecehkan dan menghina dari orang orang sekeliling yang memaksa mereka untuk tetap sembunyi.

Saya ngga pernah ngimpi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, namun at least saya memimpikan negara yang bisa tenggang rasa, tepo seliro dengan apa yang menjadi pilihan hidup masin masing warga negara nya, ngg arempong dan pengen ikut ngurusin urusan orang lain, lagian preferensi sexual merupakan hal pribadi, ngapain juga orang orang yang berkedok agama itu ikut rempong ngurusin preferensi sexual kita.
Ahh tuh kan saya jadi nyampah pagi pagi gini di blog...hihihi...

Monday, November 12, 2012

Ruben ituhhh....


Ruben itu kaya anak kecil yang kalau dapet maenan baru excited nya bukan main dan kalau bisa dia akan memamerkan nya kepada seluruh teman nya bahwa dia mendapatkan sesuatu yang luar biasa dan menjadi milik nya seorang.


Ruben itu kaya anak kecil yang kadang suka ngga peka sama situasi dan kondisi sekitar, orang udah teriak2 atau udah marah2 dia kadang cuman bisa bengong dan mencerna cukup lama apa yang di maksud orang itu.

Ruben itu kaya anak kecil yang kalau kehilangan sesuatu yang dia sayang, dia bisa ngga makan, ngga tidur, bahkan ngga bisa senyum.

Tapi meskipun Ruben kaya anak kecil, Ruben selalu berusaha untuk menjadi dewasa. Ketika dia kehilangan sesutu yang dia sayang, dia akan mencoba untuk menyembunyikan itu semua dari orang lain dan cukup membuat dirinya sendiri menderita. Ruben juga akan berusaha menjadi dewasa apabila dia melakukan kesalahan, dia akan berusaha menerima konsekuensi nya, namun seperti layaknya orang lain Ruben selalu ingin diberikan kesempatan untuk menebus semua kesalahannya. Ruben juga selalu belajar dari setiap kesalahan yang dia buat, kesalahan tersebut tidak akan pernah dia ulang lagi untuk kedua kali nya. 

Secara keseluruhan Ruben itu hanya manusia biasa yang kadang ngga sadar kalau setiap langkah yang diambil kadang mengakibatkan reaksi fatal, bahwa kadang langkah yang dia ambil merupakan langkah yang akan dia sesali seumur hidup nya. Ruben is like an open book, you can read her straight away without even trying to open up the cover, what you see...is what you're going to get form Ruben. Even tough she's like an open book, there are certain pages that maybe is not in the perfect shape,and sometimes she hides them very well. Ruben itu selalu serius dengan apa yang sudah di katakan dan selalu akan menepati janji nya, namun jangan lupa part diatas yang menyatakan bahwa Ruben itu kadang kaya anak kecil yang suka over excited sampe harus cerita sesuatu yang sebenernya merupakan rahasia. Dan Ruben sekarang tahu hal itu, dan berniat untuk membuang sisi anak kecil nya itu. Ruben juga selalu akan kasih semua, she will give you all that she can give.

But you have to remember one thing, there's always a small kid in each of us, that side will always make us have our sanity when the reality is to hard to bear. 

Ruben yang sekarang sudah jauh lebih dewasa, she will prove it to you.

Lo..Gue..E.N.D!

Bener yah kata banyak orang, jalan hidup kita masing masing ngga ada yang bisa diprediksi. Sama halnya dengan kisah saya dan S! yang musti bubar jalan, padahal jalan nya aja baru dua bulan.

Saya mempunyai andil yang sangat besar di dalam kegagalan hubungan ini. Saya melanggar janji saya sendiri, mau dilihat dari mana pun, posisi saya udah paling salah, saya ngga akan bela diri saya, saya juga ngga akan cari pembenaran dari tindakan saya. Mungkin kalau saya di posisi S! saya pun akan berlaku sama, namun beda nya adalah saya pasti akan selalu memberi kesempatan untuk pasangan saya berubah, kesempatan untuk pasangan saya untuk memperbaiki kesalahan yang sudah di buat nya, dan bisa menunjukkan kepada saya betapa menyesal nya dia karena melakukan kesalahan.

Tapi tidak di kasus saya ini, S! sama sekali ngga mau memberi kesempatan kepada saya, betapa pun saya sudah memohon, dia tetap tidak mau. Saya sadar kesalahan saya ini sangat susah untuk di tebus dengan apapun, namun apakah hanya dengan putus jalan keluar terbaik nya?apakah dengan putus jalan terbaik nya ketika dia pun mengaku sayang sama saya...dan saya pun masih sayang sama dia. Saya cuman sedikit ngerasa agak ngga fair buat saya karena S! sama sekali ngga mau kasih saya kesempatan untuk fix things with her.

But anyway who am i to bargain anything here?I'm the villain here...Saya cuman bisa pasrah, dari dulu pun saya di paksa untuk selalu bisa pasrah menerima apa yang ngga saya mau terima. 

Dear Sarah, Thank you for the lesson, it's a one big lesson that i get from you, if this was a punishment from you..i'm willing to take it. I love you...be good...take care. Just remember, it tooks months for me to say those 3 words to you, i finally can say it and i meant it. Tadinya mau kasih kamu surprise cake dengan kata kata "I Love You" pas kita 2 bulanan...and i do still you hope that you still feel the same and i still have the chance to have you again sometimes in the future. I missed you already.