Tuesday, February 4, 2014

How Long Will You Wait?

Postingan kali ini di sponsoari oleh curhatan tengah malam penuh tangis darah oleh teman saya yang straight. Mungkin curhatan nya juga bisa berlaku di kehidupan percintaan Lesbian.

Judul diatas adalah salah satu kalimat pertanyaan yang saya lontarkan kepada teman saya ketika dia curhat menceritakan kehidupan percintannya yang mulai dilanda kepelikan. Masalahnya sebenernya buat saya tidak pelik, namun tolak ukur pandang masing masing pribadi terhadap suatu masalah kan beda beda yah. 

Teman saya ini sudah berpacaran dengan seorang pria asal Australia, seorang Duda yang belum secara resmi bercerai dari istri nya dan mempunyai 3 orang anak, umur ya jauh diatas umur teman saya ini. Teman saya belum pernah menikah dan sangat mencintai pria ini sehingga dia merelakan karier nya di Indonesia yang sudah cukup mapan untuk tinggal bersama pria pilhan nya ini. Yang menjadi masalah disini adalah dari keluarga teman saya, keluarga nya mulai merongrong dengan pertanyaan dan permintaan untuk segera menikah di tahun 2014 ini juga, keinginan keluarga nya sudah dia sampaikan kepada sang kekasih namun jawabannya mengecewakan, sang kekasih tidak siap untuk menikahi teman saya karena pada dasarnya dia trauma pada lembaga pernikahan, yang menjadi masalah lagi adalah belum resmi nya perceraian sang kekasih dengan mantan istri nya, dimana sang pria berdalih bahwa proses perceraian sangat sulit karena dia harus membagi harta dengan sang mantan istri. Singkat kata sang pria tidak siap dengan segala pilihan yang di hampar kan oleh teman saya ini.

Dari curhatan teman saya diatas tadi, saya ingin bertanya...sampai kapan dia harus menunggu?teman saya sudah berumur diatas 30, harus berapa lama dia menunggu?2 tahun?3 tahun?4 tahun?5 tahun?10 tahun?lalu ternyata setelah menunggu selama itu hubungan mereka kandas ditengah jalan, lalu teman saya bagaimana?.

Pertanyaan diatas juga saya implementasikan kepada para teman teman lesbian saya, sampai kapan kalian akan menunggu orang yang kalian cintai berubah?sampai kapan kalian menunggu dia siap untuk ber commitment jauh lebih dalam dengan kalian?Jawabannya cuman satu dari saya yaitu bila ditanya soal kesiapan ber commitment, semua orang akan menjawab tidak siap...semua orang tidak akan pernah siap untuk ber commitment yang ada adalah mau atau tidak nya orang itu berusaha untuk meng commit diri nya sendiri pada jalan yang dia sudah pilih. Lalu untuk pertanyaan samapi kapan kalian harus menunggu pasangan kalian untuk berubah?Jawaban saya juga cuman satu untuk pertanyaan itu, jangan pernha mengharapkan seseorang berubah demi kita, apakah kalian lupa bahwa kalian tertarik dengan pribadi dia yang memang seperti itu ada nya?menginginkan seseorang berubah sesuai dengan kita merupakan kesalahan yang paling umum di lakukan para pasangan, harusnya kita sebagai pasangan, sebagai partner, kita harus bisa menerima segala minus dan plus pasangan kita, dan berusaha bagaiman bahwa dengan pribadi kalian yang sangat bertolak belakang tapi bisa saling melengkapi gap yang timbul sehingga kalian bisa melebur menjadi satu.

Mungkin kata yang tepat bukan merubah pasangan kita menjadi seperti apa yang kita mau...tapi lebih tepat nya mengembangkan pribadi yang ada menjadi jauh lebih baik lagi...nah kalau kata kata nya sepert ini saya suka. Lagian daripada repot repot merubah seseorang menjadi seperti apa yang kita mau, mendingan kita cari sesorang yang benar benar sesuai dengan apa yang kita mau...bukan begitu temans?\


No comments:

Post a Comment