Kaum LGBTIQ..wait let me rephrase that sentence...LGBTIQ Society sudah lama di anggap sebagai society nomer kesekian kesekian dalam lingkungan kita. Rasanya baru baru ini saja saya bisa merasakan sedikit ada kebebasan untuk kaum LGBTIQ untuk berkarya, dan bisa menunjukkan jati dirinya di masyarakat luas. Tidak seperti dulu yang mana kita harus ngumpet ngumpet bak maling dan sangat ketakutan rasanya kalau sampai orang tahu kita termasuk dalam kalangan LGBTIQ tersebut.
Ketika saya bekerja di salah satu organisasi yang memang bekerja sama dengan LSM-LSM lokal yang menaungi kaum Lesbian, Gay dan Transgender, mata saya banyak terbuka dengan keadaaan yang notabene merupakan kaum saya sendiri. Banyak tindakan2 abusive yang diterima kaum ini. Bahkan ngga sedikit perlakuan abusive itu dilakukan oleh keluarga sendiri, dari mulai Physical Abuse sampe kepada Mentally Abuse. Pernah ada satu kasus dimana si anak yang menjadi Lesbian di kurung di rumah, dipanggilkan ustadz, dan menerima kekerasan berulang ulang dari keluarga nya, sampai pada akhirnya sang anak kabur ke organisasi mitra saya untuk meminta perlindungan, karena ketika dia lari mencari perlindungan kepada Aparat kita sang anak malah mendapatkan cemoohan yang tidak ada bedanya dengan perlakuan keluarga si anak ini, si anak ini meminta perlindungan dan meminta untuk dapat mengadvokasi si anak ini dengan keluarga.
Ada salah satu kasus lagi dimana ada seorang transgender yang selalu di lecehkan di lingkungan tempat tinggal dia dan berakhir kepada kasus pengeroyokan serta pelecehan seksual terhadap sang Transgender, kasus yang sama terjadi ketika dia berusaha untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada Pihak yang berwenang, yang ada dia menjadi bahan tertawaan dan semakin di lecehkan lagi.
We have to open our eyes people, these people is not sick people that we need to avoid. They are the same like we are. Mengapa kebanyakan Transgender lebih memilih untuk mengamen dan melacurkan diri nya?karena lingkungan tidak menerima adanya mereka, bahkan lapangan kerja yang tersedia pun sangat terbatas, jarang sekali kantor kantor yang mau menerima mereka sebagai pegawainya. Mengapa para Gay dan Lesbian lebih memilih untuk stay in the closet ketika dia di wilayah kantor?karena ya itu sekali lagi...pandangan nyinyir, melecehkan dan menghina dari orang orang sekeliling yang memaksa mereka untuk tetap sembunyi.
Saya ngga pernah ngimpi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, namun at least saya memimpikan negara yang bisa tenggang rasa, tepo seliro dengan apa yang menjadi pilihan hidup masin masing warga negara nya, ngg arempong dan pengen ikut ngurusin urusan orang lain, lagian preferensi sexual merupakan hal pribadi, ngapain juga orang orang yang berkedok agama itu ikut rempong ngurusin preferensi sexual kita.
Ahh tuh kan saya jadi nyampah pagi pagi gini di blog...hihihi...
No comments:
Post a Comment